Senin, 23 September 2013

Dinamika Udara (angin)

Dinamika Udara (Angin)

Pengertian Angin
Angin yaitu udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara(tekanan tinggi ke tekanan rendah) di sekitarnya. Angin merupakan udara yang bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah atau dari suhu udara yang rendah ke suhu udara yang tinggi.

Sifat Angin
Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara dingin disekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Diatas tanah udara menjadi penas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin ini dinamanakan konveksi.

Terjadinya Angin
Gradien barometris:
Bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari 2 isobar yang jaraknya 111 km. Makin besar gradien barometrisnya, makin cepat tiupan angin.
Letak tempat:
Kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat dari yang jauh dari garis khatulistiwa.
Tinggi tempat:
Semakin tinggi tempat, semakin kencang pula angin yang bertiup, hal ini disebabkan oleh pengaruh gaya gesekan yang menghambat laju udara. Di permukaan bumi, gunung, pohon, dan topografi yang tidak rata lainnya memberikan gaya gesekan yang besar. Semakin tinggi suatu tempat, gaya gesekan ini semakin kecil.
Waktu:
Di siang hari angin bergerak lebih cepat daripada di malam hari.

Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan besarnya energi panas matahari yang di terima oleh permukaan bumi. Pada suatu wilayah, daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara yang cenderung lebih rendah. Perbedaan suhu dan tekanan udara akan terjadi antara daerah yang menerima energi panas lebih besar dengan daerah lain yang lebih sedikit menerima energi panas, yang berakibat akan terjadi aliran udara pada wilayah tersebut.


Angin – angin mempunyai mempunya nama.
Adanya angin memberi kesan yang bermacam-macam. Oleh karena itu orang membedakan angin dengan memberi nama. Berbagai cara dan dasar digunakan untuk memberi nama angin antara lain :

1. berdasarkan arah bertiupnya
2. kecepatan atau kekuatannya
3. waktu bertiupnya
4. sifat dan dampaknya,serta masih banyak lagi yang lainnya.
Berasarkan kebiasaan arah datangnya dikenal angin baratan dan angin timuran :
Angin baratan adalah angin yang arahnya selalu dari barat, tetapi berbeda dengan angin barat. Kenyataanya di musim angin barat , laut sekeliling pulau Sulawesi selalu mengamuk. Ombak setinggi 2 meter lebih. Dan dalam kondisi seperti ini,hampir dipastikan tidak ada nelayan yang berani melaut. Kecuali mereka yang cukup nekad dan bernyali besar. Sebab keselamatan jiwa dan perahu pecah adalah taruhannya. Alhasil mata pencaharian para penduduk yang sebagian besar nelayan otomatis lumpuh. Kondisi ini terjadi di seluruh pulau-pulau di selat makassar, bahkan lebih parah karena sulit dijangkau, yang mengakibatkannya terisolir dari bantuan yang datang. Hujan dan badai memang selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sebagai penduduk pulau. Kami mafhum jika laut mengamuk di musim angin barat ini.
Makassar, 04 januari 2008

Angin timuran adalah angin yang arahnya selalu dari timur tetapi berbeda dengan angin timur.
Dari arahnya dan sekaligus dari tempatnya dikenal angin baratan khatulistiwa, angin baratan subtropik, angin timuran kutub.

Angin baratan khatulistiwa adalah angin baratan yang terdapat di sekitar khatulistiwa yang memisahkan angin pasat belahan bumi utara dan pasat belahan bumi selatan.

Angin baratan subtropik, adalah angin baratan yang terdapat di pinggiran menghadap kutub dari kawasan subtropik.

Angin timuran kutub adalah angin timuran yang terdapat di kawasan kutub.

Angin pasat, adalah nama angin di kawasan tropik yang berasal dari daerah tekanan tinggi subtropik yang berpusat di sekitar 30o – 40olintang utara dan di sekitar 30o – 40o lintang selatan. Angin tersebut bertiup dari suatu arah hampir sepanjang tahun. Di bagian belahan bumi utara arah umumnya dari timur laut, dan di bagian belahan bumi selatan dari arah tenggara. Angin pasat timbul karena adanya daerah dengan tekanan tinggi luar tropik di belahan bumi utara dan selatan dan yang lebih tinggi dari pada tekanan udara di kawasan tropik. Angin pasat terlihat jelas di atas lautan Pasifik dan di atas lautan Atlantik.

Dari perubahan arahnya dikenal angin menganan dan angin mengiri.

Angin menganan adalah angin yang arahnya berubah ke arah kanan atau searah dengan arah putaran jarum jam. Angin tersebut terdapat di kawasan tropik belahan bumi utara ketika angin dari daerah tekanan tinggi subtropik menuju ke arah kawasan tropik Selain itu juga terdapat di sekitar daerah siklon atau siklontropis di belahan bumi selatan.

Angin mengiri adalah angin yang arahnya berubah ke arah kiri atau berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Angin tersebut terdapat di kawasan tropik belahan bumi selatan ketika angin dari daerah tekanan tinggi subtropik menuju ke arah kawasan tropik Selain itu juga terdapat di sekitar daerah siklon atau siklontropis di belahan bumi utara.

Dari tempatnya, dikenal banyak nama angin :
Angin lokal.. Nama angin yang biasa bertiup di suatu tempat disebut “angin lokal atau angin setempat”.

Angin lorong, angin lokal kencang diujung terowongan atau celah diantara dua bukit,


Angin laut, angin lokal di kawasan pantai yangterjadi pada siang hari; arahnya dari laut menuju daratan karena perbedaan suhu ketika permukaan darat lebih tinggi dari pada suhu di atas laut yang bersebelahan. Umumnya angin laut lebih kuat dibandingkan angin darat. Angin laut dapat memasuki daratan sampai sekitar 30 km dari pantai, sedangkan angin darat hanya mencapai sekitar 10 km dari pantai ke arah laut.

Angin darat, angin lokal di kawasan pantai yang terjadi pada malam hari; arahnya dari daratan menuju lautan karena perbedaan suhu ketika permukaan laut suhunya lebih tinggi dari pada suhu di atas daratan yang bersebelahan.

Angin gunung, angin lokal di pegunungan yang terjadi pada malam hari dari puncak gunung menuju lembah ketika udara di puncak gunung menjadi dingin dan rapat massanya lebih besar dibandingkan dengan yang ada di lembah. Angin gunung juga disebut angin katabatik.

Angin lembah, angin lokal yang di pegunungan yang terjadi pada siang hari dari lembah ke arah puncak gunung ketika lereng gunung mendapat banyak penyinaran matahari, sehingga udara naik sepanjang lereng gunung. Angin lembah disebut pula angin anabatik.

Angin permukaan, adalah angin yang bertiup di dekat permukaan bumi. Pengukuran angin tersebut dilakukan pada ketinggian 10 meter dari permukaan bumi di kawasan terbuka.

Berdasarkan waktu terjadinya, dikenal angin musim,
Angin musim adalah nama angin yang bertiup secara musiman. Dalam sebagian tahun bertiup dari satu arah, dan sebagian tahun lainnya bertiup dari arah yang berlawanan. Angin musim tersebut terdapat di banyak daerah, misalnya di Afrika, Arab, India, Indonesia. Di Indonesia bagian tengah dan timur pada umumnya dikenal angin musim barat dan angin musim timur. Angin musim barat berlangsung mulai sekitar bulan Oktober dan berakhir sekitar bulan Maret; angin musim timur berlangsung sekitar bulan April sampai sekitar bulan September. Di sebagian Indonesia bagian barat, di India, dikenal angin musim barat daya dan angin musim timur laut. Angin musim barat daya berlangsung dari sekitar bulan Mei sampai sekitar bulan September, dan angin musim timur laut berlangsung sekitar bulan Oktober sampai sekitar bulan April. Pergantian arah angin tersebut berkaitan dengan musim panas dan musim dingin di benua Asia. Musim angin timur laut berkaitan dengan musim dingin di Asia, dan musim angin barat daya berkaitan dengan musim panas di Asia.

Dari sifat udara yang dibawa dikenal nama-nama angin :
Angin jatuh (fohn), angin lokal yang terdapat di tempat-tempat tertentu di balik gunung. Angin tersebut sering sangat kencang, panas dan kering yang timbulnya pada musim tertentu. Angin tersebut timbul ketika udara yang dibawah dingin dan di atas panas melewati gunung. Setelah melewati gunung udara turun dengan kencang seperti angin jatuh. Angin jatuh tersebut bertiup kencang dan berlangsung terus-menerus sampai berhari-hari sehingga menimbulkan dampak yang sangat terasa di daerah yang dilewati. Biasanya terjadi pada musim kemarau yang sangat kering. Karena dampak yang sangat terasa tersebut penduduk setempat memberi nama menurut kesan yang dirasakan.


Di Indonesia angin jatuh yang terkenal adalah

angin bohorok di Tapanuli Sumatra Utara;

angin kumbang di daerah Cirebon Jawa Barat,

angin gending di daerah Pasuruhan Jawa Timur,

angin barubu di Sulawesi Selatan,

angin wambraw di daerah Manokwari.

angin taku yakni angin timur-timur laut kuat di Juneau Alaska yang biasanya bertiup dalam waktu antara bulan Oktober dan Maret

Angin anabat, adalah angin lokal yang bertiup naik sepanjang lereng gunung yang panas karena sinar matahari.

Angin gravitas, adalah gerak udara dingin dari tempat yang tinggi ke arah pantai laut di dekatnya yang panas. Angin gravitas juga sering diserupakan dengan “angin jatuh” atau angin katabat.

Angin hitam, adalah angin yang kuat, sangat bergolak-galik, kering yang bertiup ke bawah di lereng gunung; angin tersebut terkenal di Kurdistan selatan, Persia, dan dinamai juga dengan angin reshabar.

Angin katabat adalah angin turun sepanjang lereng gunung yang timbul karena dalam arah horizontal kerapatan udara di sepanjang lereng lebih besar daripada kerapatan udara di sekitarnya. Perbedaan kerapatan tersebut karena pendinginan permukaan lereng mendinginkan udara di sekatnya.

Angin krakatao adalah lapisan angin timuran di atas wilayah tropik pada ketinggian 18 – 24 km. Lapisan tersebut menempati puncak dari angin baratan troposfer tengah yang tebalnya sampai 6 km dan kira-kira 2 km di atas tropopauze. Nama angin tersebut dikenali ketika adanya debu letusan gunung Krakatao pada tahun 1883.

Di kalangan pelayaran dan penerbangan dikenal nama-nama angin yang diberikan menurut kesan pada pelayaran atau penerbangan, misalnya:
Angin buritan adalah nama angin yang bertiup dari arah belakang searah dengan arah gerak kapal atau pesawat terbang; disebut pulaangin turutan.

Angin haluan atau angin sakal adalah angin yang bertiup dari depan arah kapal atau pesawat terbang. Baik angin buritan maupun angin sakal keduanya disebut angin membujur.

Angin lambung adalah angin yang bertiup dari arah samping kapal atau pesawat terbang; disebut pula angin silang yalah angin yang mempunyai komponen berarah tegaklurus terhadap arah gerakan kapal atau pesawat terbang.

Mengapa angin dapat menumbangkan pohon?
Angin mempunyai kecepatan dan energi yang dapat mendorong benda-benda yang dilewatinya. Kecepatan angin dinyatakan dalam km/jam, m/detik, atau dalam knot ( 1 knot = 1 mil/jam = 1,8 km/jam ). Dalam pelayaran lazimnya menggunakan ukuran kecepatan knot dan dalam penerbangan selain knot juga digunakan ukuran km/jam atau m/detik.
Angin mempunyai energi yang besarnya setara dengan kecepatannya; makin kencang makin besar energi yang dibawanya. Berkaitan dengan energi tersebut oleh Admiral Beaufort dari angkan laut Inggris pada awal abad-19 angin dibedakan tingkatnya menurut dampak yang ditimbulkan, dan menyusunnya dalam skala yang selanjutnya dikenal dengan “skala Beaufort”. Kenudian pada tahun 1906 G.C. Simpson dalam Meteorological Office Publication no. 180, London, mengemukakan hubungan antara skala Beaufort dan kecepatan angin dalam rumus : V = 0,836 B3 /2, dengan V = kecepatan angin dinyatakan dalam m/dt, dan B besarnya skala. Dengan skala Beaufort dikenali tanda-tanda seperti berikut :
Skala Beaufort 0 : Keadaan tenang; asap dari cerobong industri kelihatan
Skala Beaufort 12: Angin sangat kencang yang kecepatannya lebih dari 60 knot. Di darat banyak menimbulkan pohon tumbang dan di laut menimbulkan gelombang sangat tinggi.
Berdasarkan kecepatannya angin diberi tingkatan yang diberi nama:

Angin teduh, adalah angin yang kecepatannya kurang dari 1 knot.

Angin ribut, adalah angin yang luar biasa kekuatannya lebih dari 28 knot.

Angin ribut kuat, adalah angin ribut yang kecepatannya 41 sampai 47 knot.

Angin ribut hebat, adalah angin ribut yang kecepatannya lebih dari 48 knot.

Angin ribut lemah, adalah angin ribut yang kecepatannya 25 sampai 33 knot.

Angin ribut sedang, adalah angin ribut yang kecepatannya 25 sampai 33 knot.

Bebagai nama angin juga diberikan berdasarkan sifat fisis dan berdasarkan teori atau disebut angin teoritik, antara lain :.
Angin geostrofik adalah angin mendatar yang secara teori dihasilkan dari adanya keseimbangan antara gaya Corioli dan landaian mendatar tekanan. Dalam fisika keseimbangan tersebut dinyatakan dengan rumus : Vg = – g/f Әp/Әn; dengan g = percepatan gravitas bumi, f = faktor Corioli, p = tekanan atmosfer, dan Әp/Әn = landaian tekanan sepanjang arah garis n tegaklurus isobar. Angin geostrofikk arahnya hampir sejajar dengan arah isobar.

Angin alobar adalah (1). Komponen angin yang secara teori dihasilkan oleh ketidak seragaman perubahan lokal dari tekanan mengikut waktu. (2). Kecepatan angin yang timbul dari adanya keseimbangan antara gaya Corioli dan percepatan angin geostrofik.

Angin isalobar, adalah angin yang secara teori ditimbulkan oleh perubahan lokal tekanan mengikut waktu.

Angin landaian adalah komponen kecepatan angin yang tegaklurus garis kontur tekanan tetap di suatu titik pada peta ketinggian. Secara teori angin landaian (Vgr) dihasilkan dari adanya keseimbangan antara gaya Corioli dan gaya sentripetal dengan landaian mendatar tekanan, dan dinyatakan dengan rumus : Vgr2/R + f Vgr = – g Әp/Әn; dengan R = jejari lengkungan lintasan, f = faktor Corioli, g = percepatan gravitas bumi, Әp/Әn = landaian tekanan tegaklurus isobar.

Angin langkisau adalah angin kuat yang mendadak terjadi dalam waktu singkat yang kemudian diikuti keadaan tenang (ta ada angin); umumnya hanya disebutkan langkisau saja.

Angin membujur setara adalah angin khayalan, dalam penerbangan, yang diwujudkan seperti angin sebenarnya dengan kecepatan seragam sebesar kecepatan rata-rata pesawat terbang terhadap bumi dan selalu sejajar dengan lintasannya.

Angin pilin adalah badai angin kecil dengan udara di dalamnya berputar mengelilingi pusat yang bertekanan rendah; kadang-kadang putaran udara menjulur ke atas sampai beberapa ratus meter dan menimbulkan pilin debu bila terjadi di padang pasir.

Angin puyuh, adalah putaran kuat turus udara berbentuk juntaian yang terdapat pada bagian bawah awan Kumulonimbus dan hampir selalu tampak sebagai awan corong. Pusarnya bergaris tengah beberapa ratus meter. Biasanya berputar siklonal (mengiri bila dilihat dari atas) dengan kecepatan sekitar 150 – 500 km/jam. Angin puyuh termasuk fenomena atmosfer skala lokal yang mempunyai potensi kekuatan sangat merusak. Di Indonesia angin puyuh disebut juga “puting beliung”.

Angin semu, adalah angin yang arah dan kecepatannya diukur dari benda yang bergerak. Besar arah dan kecepatannya sama dengan beda vektor antara angin sebenarnya dan kecepatan benda yang bergerak.

Angin sakal setara, sama dengan angin membujur setara.


Angin termal adalah angin yang secara teori diturunkan dari perbedaan suhu dan tekanan dalam lapisan atmosfer yang rumusnya :



Dalam praktik angin termal dinyatakan sebagai beda vektor angin di suatu paras dan vektor angin paada paras dibawahnya. Misalkan pada paras 500 mb vektor angin V5 dan pada paras 700 mb V7 maka angin termal dalam lapisan antara paras 700 mb dan 500 mb ditulis :


VT = V5 – V7
Di lintang tengah dan tinggi belahan bumi utara, di sekitar daerah dingin, arah angin termal adalah siklonik (mengiri), dan di sekitar daerah panas antisiklonik (menganan). Sebaliknya di belahan bumi selatan, di sekitar daerah dingin arah angin termal adalah antisiklonik (mengiri), dan di sekitar daerah panas siklonik (menganan). Meskipun penaksiran tersebut hanya untuk lintang tengah dan tinggi, tetapi dapat digunakan untuk menaksir imbasnya di kawasan tropik atau Indonesia.
Dengan angin termal dapat ditaksir adanya lataan suhu atau energi dan arah penjalarannya. Dalam lapisan batas (dari permukaan sampai sekitar 3 km atau paras 700 mb) , proyeksi ujung vektor angin termal membentuk garis spiral yang disebut spiral Ekman. Bila bentuk spiral sangat lengkung dalam lapisan tersebut udara bergolak-galik besar.


Angin sebagai petunjuk cuaca.
Dari angin dapat dikenali bebagai fenomena cuaca. Misalnya, di daerah mengumpulnya angina di dekat permukaan bumi udara cenderung bergerak ke atas sehingga menimbulkan banyak awan dan hujan. Sebaliknya di daerah angina menyebar udara cenderung bergerak ke bawah sehingga di atas daerah tersebut awan sulit tumbuh. Bila ngin kencang terus-menerus bertiup di atas lautan dapat menimbulkan gelombang besar. Bila di suatu daerah arah angina sejajar tetapi kearah samping kecepatannya banyak berbeda menimbulkan gesekan sehingga udara berputar; demikian pula dapat menimbulkan putaran bila arah angina di suatu sisi berlawanan arah dengan angin di sisi sebelah.

Mendeskripsikan sifat-sifat fisik atmosfer

A. Atmosfer
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah atmosfer biasa dikenal sebagai udara yang berada di sekitar kita dengan ketinggian hingga ± 1.000 kilometer. Atmosfer terbentuk sewaktu Bumi ini tumbuh, gas-gas yang terjebak di dalam planetesimal tadi lepas sehingga menyelimuti bola Bumi. Lama-kelamaan, gas oksigen dilepaskan oleh tumbuhan pertama di Bumi sehingga udara di atmosfer purba bertambah tebal hingga saat ini. Atmosfer sangat dibutuhkan bagi kehidupan di Bumi ini. Udara merupakan sumber daya alam yang digunakan oleh semua makhluk hidup di Bumi untuk bernapas. Bahkan, kita terlindungi dari batu meteor-meteor yang hendak jatuh ke Bumi karena atmosferlah batu-batu meteor tersebut tidak jatuh ke Bumi. Selain itu, atmosfer juga mempunyai peranan mengatur keseimbangan suhu agar tidak terlalu panas pada siang hari dan tidak terlalu dingin pada malam hari.
Selain atmosfer mengandung gas-gas, seperti neon, helium, hidrogenium, krypton, dan xenon. Di atmosfer juga terdapat persenyawaan seperti uap air, ozon, gas CO2 dan NH3
Atmosfer mempunyai beberapa sifat antara lain sebagai berikut :
a. Tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak dapat dirasakan kecuali bentuk angin.
b. Dinamis dan elastis atau dapat mengembang atau mengerut.
c. Transparan terhadap beberapa bentuk radiasi.
d. Mempunyai berat sehingga memiliki tekanan.
a. Karakteristik Lapisan Atmosfer
Atmosfer terdiri atas banyak lapisan. Tiap lapisan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.
Lapisan-lapisan atmosfer adalah :
1) Troposfer
Lapisan ini mempunyai ketebalan yang berbeda-beda di tiap wilayah di atas Bumi. Di atas kutub, tebal lapisan ini sekitar 9 km. Semakin dekat dengan daerah khatulistiwa lapisan ini semakin tebal hingga mencapai 15 km. Perbedaan ketebalan ini disebabkan oleh rotasi Bumi, akibatnya terjadi perbedaan kondisi cuaca antara kutub dan khatulistiwa. Yang istimewa, lapisan ini menjadi tempat terjadinya proses-proses cuaca, seperti awan, hujan, serta proses-proses pencemaran lainnya. Pada lapisan ini tinggi rendahnya suatu tempat di permukaan Bumi berpengaruh terhadap suhu udaranya. Hal ini mengikuti hukum gradien geothermis, yaitu semakin tinggi (tiap kenaikan 1.000 meter) suatu tempat di permukaan Bumi, temperatur udaranya akan turun rata-rata sekitar 6°C di daerah sekitar khatulistiwa. Peralihan antara lapisan troposfer dengan stratosfer disebut tropopause.
2) Stratosfer
Lapisan di atas tropopause adalah lapisan stratosfer. Di lapisan ini tidak berlaku hukum gradien geothermis karena semakin tinggi posisi di tempat ini, suhu akan semakin naik. Hal ini disebabkan kandungan uap air dan debu hampir tidak ada. Karakteristik yang menarik pada lapisan ini adalah adanya lapisan ozon yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Ozon melindungi manusia dari radiasi sinar ultraviolet. Keberadaan ozon sekarang ini semakin menipis karena adanya pencemaran dari gas CFC (Chloroflourocarbons). Di atas lapisan stratosfer terdapat lapisan stratopause yang merupakan lapisan peralihan antara stratosfer dan mesosfer.
3) Mesosfer
Lapisan ini merupakan tempat terbakarnya meteor dari luar angkasa menuju Bumi sehingga lapisan ini merupakan lapisan pelindung Bumi terhadap benturan benda atau batuan meteor. Di atas lapisan mesosfer terdapat lapisan mesopause yang merupakan lapisan peralihan antara mesosfer dan termosfer.
4) Termosfer
Lapisan di atas mesopause adalah lapisan termosfer. Pada lapisan ini terdapat aurora yang muncul kala fajar atau petang. Lapisan ini penting bagi komunikasi manusia karena memantulkan gelombang radio ke Bumi sehingga gelombang radio pendek yang dipancarkan dari suatu tempat dapat diterima di bagian Bumi yang jauh.
5) Eksosfer
Lapisan ini merupakan lapisan terluar yang mengandung gas hidrogen dan kerapatannya makin tipis sampai hampir habis di ambang angkasa luar. Cahaya redup yaitu cahaya zodiakal dan gegenschein muncul pada lapisan eksosfer yang sebenarnya merupakan pantulan sinar matahari oleh partikel debu meteor yang banyak jumlahnya dan bergelantungan di angkasa.
b. Cuaca dan Iklim
Cuaca adalah keadaan udara pada suatu saat dan pada suatu tempat atau daerah yang sempit. Sedangkan iklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada suatu wilayah yang relatif luas dengan waktu yang relatif lama. llmu yang mempelajari tentang cuaca disebut meteorologi, sedangkan ilmu yang mempelajari iklim disebut klimatologi. Kondisi cuaca harian diamati oleh suatu lembaga yang disebut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG),
Perbedaan Cuaca dan Iklim
Unsur-unsur cuaca dan iklim antara lain sebagai berikut.
a.
b. Suhu udara
Suhu udara diukur dengan termometer. Kertas yang berisi catatan tentang suhu disebut termogram. Faktor-faktoryang mempengaruhi suhu udara antara lain sebagai berikut :
1) Sudut datangnya sinar matahari.
2) Jarakdari laut.
3) Tinggi suatu tempat.
Semakin tinggi letak suatu tempat maka suhu udara semakin rendah, Garis-garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai rata-rata suhu udara sama disebut isoterm.
c. Tekanan udara
Tekanan udara berbeda-beda bergantung pada tempat dan waktu. Besarnya tekanan udara dinyatakan dengan milibar (mb). Alat untuk mengukur tekanan udara disebut barometer.
Garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang bertekanan udara sama disebut isobar.
d. Angin
Angin adalah aliran udara dari tempat satu ke tempat yang lain. Angin mempunyai arah dan kecepatan. Untuk rnengetahui arah angin digunakan bendera angin atau kantong angin. Alat untuk mengukur kecepatan angin disebut anemometer.
Hasil catatan anemometer disebut anemogram. Satuan kecepatan angin adalah km/jam atau knot.
e. Kelembaban Udara
Kelembaban udara adalah kandungan uap air dalam udara. Alat untuk mengukur kelernbaban udara disebut higrometer. Kelembaban udara dinyatakan dengan satuan gram per meter kubik (g/m3).
f. Curah Hujan
Berubahnya uap air menjadi butir-butir air dan jatuh ke permukaan bumi.
Sesuai dengan unsur-unsur iklim maka hal yang berkaitan dengan lokasi, seperti letak garis lintang, tinggi tempat, dan sifat wilayah dapat menentukan iklim dan cuaca. Berdasarkan letak garis lintang dan lokasi wilayah yang semakin menjauhi garis khatulistiwa atau semakin mendekati daerah kutub, maka iklim dan udaranya semakin dingin. Berdasarkan letak garis lintang, iklim di muka bumi dapat diklasifikasikan menjadi empat tipe. Klasifikasi ini disebut klasifikiasi iklim matahari, antara lain sebagai berikut
1) Iklim Tropik terletak di daerah antara 231/2° LU – 23 1/2° LS.
2) Iklim Subtropik terletak antara 23 1/2 ° – 35°, baik LU maupun LS.
3) Iklim Sedang terletak antara 351/2° – 66 1/2 °, baik LU maupn LS.
4) Iklim Dingin terletak antara 66, 1/2° – 90°, baik LU maupun LS.
Atas dasar klasifikasi iklim di atas, Indonesia termasuk wilayah beriklim tropik.
c. Tipe-Tipe Hujan
Hujan merupakan proses lanjutan dari naiknya massa udara/awan. Uap air yang terkandung dalam awan tersebut akan berubah menjadi butir-butir air yang besar dan akhirnya jatuh ke Bumi. Proses terjadinya hujan dan besarnya curah hujan tidak sama antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Wilayah yang memiliki curah hujan yang sama pada suatu peta ditunjukkan oleh garis isohyet. Berdasarkan proses terjadinya, hujan dibedakan menjadi sebagai berikut :
1) Hujan Orografis
Hujan ini terjadi karena udara yang membawa uap air dari laut dipaksa naik oleh adanya pegunungan. Wilayah yang tidak turun hujan di sisi lain gunung atau pegunungan dikenal dengan sebutan daerah bayangan hujan.
2) Hujan Zenithal
Hujan zenithal terjadi karena adanya pertemuan arus konveksi yang membawa uap air di daerah khatulistiwa. Dengan adanya pertemuan dua arus konveksi menyebabkan tabrakan dan kedua massa udara naik ke atas.
Hujan Orografis Hujan Zenithal
3) Hujan Frontal
Hujan frontal terjadi karena pertemuan dua massa udara yang berbeda suhunya. Perbedaan suhu ini menyebabkan massa udara yang panas dipaksa naik ke atas. Jumlah curah hujan dalam sebulan dapat digunakan untuk menentukan bulan basah, bulan sedang, dan bulan kering. Bulan basah terjadi jika dalam satu bulan jumlah curah hujannya lebih dari 100 mm, bulan sedang jika dalam satu bulan jumlah curah hujannya 60–100 mm, dan bulan kering jika dalam satu bulan jumlah curah hujannya kurang dari 60 mm.
Di Indonesia curah hujan tertinggi terdapat di daerah Kranggan. Daerah ini terletak di lereng barat Gunung Slamet. Curah hujannya ± 8.305 mm/ tahun. Daerah yang lain adalah Tenjo, dekat Baturaden, Jawa Tengah. Jumlah curah hujannya ± 7.069 mm/tahun.
Hujan Frontal
Curah hujan paling sedikit terdapat di Palu, ibu kota Sulawesi Tengah. Curah hujannya dalam satu tahun ± 547 mm. Daerah lainnya adalah Asembagus, Jawa Timur. Curah hujannya dalam satu tahun ± 886 mm.
d. Pengaruh Ketinggian Tempat terhadap Suhu Udara
Dapat kamu bayangkan saat kamu pergi ke pegunungan kemudian ke pantai, pasti akan kamu rasakan adanya perbedaan suhu. Berdasarkan gradien geothermis, suhu memang akan berubah seiring dengan perubahan ketinggian tempat. Perubahan suhu udara berdasarkan perbedaan ketinggian ini dapat dihitung dengan rumus Mock berikut :
T = 0,006 (x – x ) . 1° CD
Keterangan :
T = Selisih suhu udara antara lokasi 1 dengan lokasi 2 (°C).D
x1= Tinggi tempat yang diketahui suhu udaranya (m).
x2= Tinggi tempat yang dicari suhu udaranya (m).
Jika selisih suhu udara ( T) tandanya negatif untuk mengetahui suhu
udara yang dicari, suhu udara yang telah diketahui dikurangi dengan T.
Jika T tandanya positif untuk memperoleh nilai suhu udara yang kamu
cari, suhu udara yang telah diketahui dijumlahkan dengan nilai T.
Contoh:
Kota A memiliki ketinggian 5 m di atas permukaan air laut. Rata-rata
suhu udara kota A 28°C. Berapakah rata-rata suhu udara kota B yang memiliki ketinggian 215 m di atas permukaan air laut?
Penyelesaian:
Diketahui:Ketinggian kota A = 5 m dpal.
Ketinggian kota B = 215 m dpal.
Rata-rata suhu udara kota A = 28° C
Ditanyakan: Rata-rata suhu udara kota B?
Jawaban:
T = 0,006 (X1 – X2) × 1° CD
= 0,006 (5 – 215) × 1° C
= –1,2
Jadi, suhu udara kota B adalah 28° C – 1,2° C = 26,8° C.
Dengan perhitungan menggunakan rumus Mock di atas dapat disimpulkan bahwa setiap kenaikan 100 meter ke arah puncak gunung, suhu udaranya akan turun sebesar 0,6°C.
e. Jenis-jenis Angin
Perubahan siang dan malam menyebabkan perbedaan penerimaan sinar matahari. Hal ini pulalah yang menyebabkan perbedaan suhu (temperatur) di berbagai tempat di permukaan Bumi termasuk di daratan dan lautan. Suhu yang tinggi mempunyai tekanan udara yang lebih rendah. Sementara itu, suhu yang rendah memiliki tekanan udara yang tinggi. Perbedaan inilah yang menyebabkan terjadinya angin.
a. Angin Lokal
1) Angin Darat dan Angin Laut
Angin Darat Angin Laut
Pada saat siang hari daratan lebih cepat panas daripada lautan, sementara itu pada malam hari daratan lebih cepat dingin dari lautan. Perbedaan suhu ini akan mempengaruhi tekanan udara antara darat dan laut. Pada siang hari tekanan udara daratan lebih rendah daripada lautan sehingga udara bergerak dari laut ke darat dan disebut angin laut. Sebaliknya, pada malam hari tekanan udara daratan lebih tinggi daripada lautan sehingga udara bergerak dari darat ke laut dan disebut angin darat.
2) Angin Lembah dan Angin Gunung
Pada malam hari puncak gunung lebih cepat dingin daripada lembah. Sementara itu, pada siang hari puncak gunung lebih cepat panas daripada lembah. Perbedaan suhu udara antara puncak gunung serta lembah ini akan mempengaruhi tekanan udaranya dan akhirnya akan mempengaruhi kondisi angin yang bertiup. Pada malam hari tekanan udara di puncak gunung lebih tinggi daripada lembah sehingga angin bertiup dari puncak gunung ke lembah dan disebut angin gunung. Sebaliknya, pada siang hari tekanan udara di puncak gunung lebih rendah daripada di lembah, akibatnya angin bertiup dari lembah ke puncak gunung dan disebut angin lembah.
Angin Lembah Angin Gunung
3) Angin Fohn
Angin fohn merupakan kelanjutan dari proses terjadinya hujan orografis. Setelah terjadi hujan di salah satu sisi lereng gunung, angin yang sudah tidak membawa uap air ini tetap meneruskan embusannya menuruni sisi lereng gunung yang lain. Oleh karena sifatnya yang kering, tumbuhan yang dilaluinya menjadi layu sehingga berdampak negatif pada usaha pertanian.
Di Indonesia penyebutan angin fohn berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Penyebutan itu antara lain:
a) Angin brubu di Sulawesi Selatan.
b) Angin bohorok di Deli (Sumatra Utara).
c) Angin kumbang di Cirebon (Jawa Barat).
d) Angin gending di Pasuruan dan Probolinggo (Jawa Timur).
e) Angin wambrau di Papua.
Terjadinya Angin Fohn
4) Angin Siklon dan Angin Antisiklon
Angin siklon dan angin antisiklon antara belahan Bumi utara dan selatan arahnya berbeda. Perhatikan gambar di samping. Dari gambar tersebut bagaimana pendapatmu mengenai angin siklon dan antisiklon, baik di belahan Bumi utara ataupun belahan Bumi selatan? Angin siklon merupakan udara yang bergerak dari beberapa daerah bertekanan udara tinggi menuju titik pusat tekanan udara rendah di bagian dalam. Sementara angin antisiklon bergerak dari daerah pusat tekanan udara tinggi menuju tekanan udara rendah yang mengelilinginya di bagian luar. Gerakan arah angin ini berputar. Di daerah tropis, angin siklon sering terjadi di laut. Penyebutan angin siklon di beberapa daerah berbeda-beda di antaranya sebagai berikut :
a) Hurricane, yaitu angin siklon di Samudra Atlantik.
b) Taifun, yaitu angin siklon di Laut Cina Selatan.
c) Siklon, yaitu angin siklon di Teluk Benggala dan Laut Arab.
d) Tornado, yaitu angin siklon di daerah tropis Amerika.
e) Sengkejan, yaitu angin siklon di Asia Barat.
2) Angin Muson/Musim
Angin muson yang terjadi di Indonesia ada dua, yaitu angin muson barat dan angin muson timur. Angin muson barat terjadi pada bulan Oktober–April. Pergerakan angin muson barat yang kaya uap air mengakibatkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim hujan. Saat itu kedudukan Matahari berada di belahan Bumi selatan. Nah sampai di sini, tentu kamu tahu daerah-daerah yang bertekanan udara tinggi dan tekanan udaranya rendah serta ke mana arah pergerakan angin muson barat.
Angin muson timur terjadi pada bulan April–Oktober. Angin muson timur yang bersifat kering mengakibatkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau. Saat itu kedudukan Matahari berada di belahan Bumi utara. Daerah manakah yang bertekanan tinggi dan rendah? Selanjutnya Klik Uji kompetensi…pada latihan

Mulai dari teori dasar ya,

1.Pada dasarnya setiap udara memiliki massa jenis.
2.Karena itu udara dapat menyerap & melepaskan kalor (panas)
3.Kerapatan udara berbeda-beda (istilahnya density)

Semakin dekat dengan permukaan laut udara akan semakin rapat dan semakin jauh dr permukaan laut kerapatan semakin renggang, karena massa udara terpengaruh oleh gravitas bumi.

Udara yang massa-nya rapat tentu akan menyerap panas matahari lebih banyak dari pada yang massa-nya sedikit. Kemudian ada yang namanya Lapse Rate.

Apa itu Lapse Rate?
"The environmental lapse rate (ELR) is the negative of the actual change of temperature with altitude of the stationary atmosphere at a specific time and specific location"

Saya artikan menurut bahasa saya: "lapse rate adalah perubahan temperatur sesuai dengan perubahan ketinggian pada waktu dan tempat tertentu"

Mengnai Lapse Rate bisa dibaca lebih lanjut di sini :
http://en.wikipedia.org/wiki/Lapse_Rate

Berapa besarnya rata-rata Lapse Rate?
yakni pada setiap pertambahan kenaikan sebesar 1000 feet altitude temperatur akan turun sebesar 2 derjat celcius.

Jadi jika di sebuah pantai suhunya 30 derjat celcius, maka di dataran tinggi seperti bandung yang memiliki elevasi 2500 feet dari rata-rata permukaan laut, maka bandung akan memiliki suhu kurang lebih 25 derjat celcius.

Dekat dg matahari tidak jaminan, lihat di bawah ini:
http://en.wikipedia.org/wiki/Earth%27s_a…

Pada lapisan Mesosphere dg ketinggian kurang lebih 260,000–280,000 feet temperatur justru bisa mencapai -100 (minus seratus) derjat celcius.

materi referensi:

meteorology for aviation
Semakin ke atas, oksigen semakin tipis, padahal oksigen itu yang membuat api terbakar, artinya oksigen panas. nah, karena oksigen tipis, maka menjadi dingin.


Panas bisa berpindah tempat dengan 3 cara, yaitu memancar, mengalir dan merambat.

Matahari memancarkan sinarnya dan ketika mengenai permukaan bumi sinar tsb akan dirubah menjadi panas. Panas yang terjadi di permukaan bumi sebagian panasnya masuk ke dalam tanah dan sebagian lagi dirambatkan ke udara, karena udara (terdiri dari sejumlah gas) adalah media yang bisa menghantar panas meskipun tidak sebaik logam.

Perlu diketahui semakin tinggi lokasi di muka bumi, maka udara-nya semakin tipis, artinya jarak antar molekul gas menjadi lebih renggang. Ingat pesawat terbang yang besar-besar (misalnya Airbus) kalau terbang jarak jauh mesti pada ketinggian yang sangat tinggi, sampai 10000 m di atas permukaan tanah. Maksudnya adalah untuk mengurangi gesekan dengan udara karena pada ketinggian yang tinggi udaranya tipis, dan menyebabkan hemat energi.

Karena pada tempat yang tinggi udaranya tipis, hal ini menyebabkan panas dari permukaan tanah lebih sulit untuk merambat lewat udara, dan menghasilkan temperatur udara menjadi lebih dingin dibandingkan di dataran rendah. Di ketinggian kadar o2 makin berkurang coz lapisan atmosfer makin menipis sehingga kadar o2 nya pun makin berkurang dan suhu pun semakin rendah hal ini lah yang bisa menyebabkan penyakit epidemik.berbedda dengan di daerah pantai atau ketingghian 0 km pazti kandungan o2 nya makin tinggi

Temperatur udara adalah tingkat atau derajat panas dari kegiatan molekul dalam atmosfer yang dinyatakan dengan skala Celcius, Fahrenheit, atau skala Reamur.
Perlu diketahui bahwa suhu udara antara daerah satu dengan daerah lain sangat berbeda. hal ini sangat dipengaruhi oleh hal-hal tersebut.
a). Sudut Datangnya Sinar Matahari
Sudut datang sinar matahari terkecil terjadi pada pagi dan sore hari, sedangkan sudut terbesar pada waktu siang hari tepatnya pukul 12.00 siang. Sudut datangnya sinar matahari yaitu sudut yang dibentuk oleh sinar matahari dan suatu bidang di permukaan bumi. Semakin besar sudut datangnya sinar matahari, maka semakin tegak datangnya sinar sehingga suhu yang diterima bumi semakin tinggi. Sebaliknya, semakin kecil sudut datangnya sinar matahari, berarti semakin miring datangnya sinar dan suhu yang diterima bumi semakin rendah.
b). Tinggi Rendahnya Tempat
Semakin tinggi kedudukan suatu tempat, temperatur udara di tempat tersebut akan semakin rendah, begitu juga sebaliknya semakin rendah kedudukan suatu tempat, temperatur udara akan semakin tinggi. Perbedaan temperatur udara yang disebabkan adanya perbedaan tinggi rendah suatu daerah disebut amplitudo. Alat yang digunakan untuk mengatur tekanan udara dinamakan termometer. Garis khayal yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai tekanan udara sama disebut Garis isotherm. Salah satu sifat khas udara yaitu bila kita naik 100 meter, suhu udara akan turun 0,6 °C. Di Indonesia suhu rata-rata tahunan pada ketinggian 0 meter adalah 26 °C. Misal, suatu daerah dengan ketinggian 5.000 m di atas permukaan laut suhunya adalah 26 °C × -0,6 °C = -4 °C, jadi suhu udara di daerah tersebut adalah -4 °C. Perbedaan temperatur tinggi rendahnya suatu daerah dinamakan derajat geotermis. Suhu udara rata-rata tahunan pada setiap wilayah di Indonesia berbeda-beda sesuai dengan tinggi rendahnya tempat tersebut dari permukaan laut.
c). Angin dan Arus Laut
Angin dan arus laut mempunyai pengaruh terhadap temperatur udara. Misalnya, angin dan arus dari daerah yang dingin, akan menyebabkan daerah yang dilalui angin tersebut juga akan menjadi dingin.
d). Lamanya Penyinaran
Lamanya penyinaran matahari pada suatu tempat tergantung dari letak garis lintangnya. Semakin rendah letak garis lintangnya maka semakin lama daerah tersebut mendapatkan sinar matahari dan suhu udaranya semakin tinggi.
Sebaliknya, semakin tinggi letak garis lintang maka intensitas penyinaran matahari semakin kecil sehingga suhu udaranya semakin rendah. Indonesia yang terletak di daerah lintang rendah (6 °LU – 11 °LS) mendapatkan penyinaran matahari relatif lebih lama sehingga suhu rata-rata hariannya cukup tinggi.
e). Awan
Awan merupakan penghalang pancaran sinar matahari ke bumi. Jika suatu daerah terjadi awan (mendung) maka panas yang diterima bumi relatif sedikit, hal ini disebabkan sinar matahari tertutup oleh awan dan kemampuan awan menyerap panas matahari. Permukaan daratan lebih cepat menerima panas dan cepat pula melepaskan panas, sedangkan permukaan lautan lebih lambat menerima panas dan lambat pula melepaskan panas. Apabila udara pada siang hari diselimuti oleh awan, maka temperatur udara pada malam hari akan semakin dingin.
ada penjelasan ilmiah untuk itu
laju penurunan suhu di troposfer (lapisan atmosfer bagian bawah atau yang kita kenal udara sekita kita) mengikuti laju yang kita kenal dengan laju penurunan lapse rate dimana makin tinggi ketinggian suatu tempat maka suhu udara akan turun.
ada persamaan matematis untuk itu yang mengikuti persamaan gas ideal dimana:
PV = RT
P merupakan tekanan, V adalah volume spesifik, R adalah tetapan gas dan T adalah temperatur selain itu untuk gas ideal (disini kita mengasumsikan atmosfer sebagai gas ideal) juga berlaku ketentuan bahwa laju penurunan tekanan berbanding lurus dengan laju penurunan suhu.
sehingga ketika kita ke tempat yang tinggi tekanan udara semakin rendah sehingga suhu udara pun menurun. Itulah salah satu hal yang menyebabkan di pegunungan suhu udara lebih dingin dari suhu di dekat laut.
sebenarnya adalah benar bahwa daerah di pegunungan menerima radiasi matahari yang lebih banyak tetapi radiasi matahari yang diterima lebih banyak digunakan untuk transfer energi/panas laten.
coba kamu perhatikan di pegunungan dan daerah yang bukan pegunungan, lebih banyak tanaman di pegunungan atau daerah datar? tentu lebih banyak pegunungan. sebagian besar radiasi matahari lebih banyak diabsorpsi untuk pertumbuhan tanaman dan digunakan untuk proses transpirasi (pelepasan molekul air oleh tanaman ke atmosfer). Inilah juga yang menyebabkan suhu udara jadi lebih rendah karena transfer energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu lebih banyak digunakan untuk transpirasi dan evaporasi (penguapan air dari tanah dan badan-badan air: danau, sungai dsb)
semoga bisa membantu, Lisa benar bahwa matahri menjadi lebih dekat dengan kita ke gunung itulah yang menyebabkan kenapa tanaman di pegunungan lebih bervariatif
semoga bisa dimengerti

Dataran rendah punya tekanan udara lebih tinggi..
dataran tinggi, tekanan udaranya lebih rendah..
udara mengalir dr tekanan udara yg tinggi ke rendah.. ya kan?
siklus air : air laut diuapkan oleh panas sinar matahari, naik menjadi uap air, dibawa naik oleh udara yg bergerak tadi [yg disebabkan oleh perbedaan tekanan udara dr dataran rendah n tinggi]..
uap air ini, di tengah perjalanan terjadi konveksi –> pertukaran suhu..
jadi semakin lama, suhunya semakin mendingin, karena terus terjadi pertukaran suhu selama perjalanan ke dataran tinggi..
akhirnya kan lama2 mendingin dan menggumpal jadi awan..
awan kemudian ‘turun’ ke bumi menjadi kabut, kabut ini turun paling banyak di dataran tinggi, kenapa? karena di dataran tinggi, kabut yg turun masih sedikit yg diuapkan kembali oleh sinar matahari..
sedangkan kenapa di dataran rendah gak turun kabut? karena udah keburu diuapkan di tengah jalan oleh matahari.. untuk mencapai dataran rendah kan lebih panjang jaraknya.. :)
udara di dataran tinggi lebih dingin ya karena kabut ini yg turun.. bisa juga disebut sbg kelembaban, karena kandungan air di udara di dataran tinggi lebih banyak.. ['kabut turun' bisa juga tidak berupa 'asap', tetapi humidity yg tinggi]
udara di dataran rendah lebih panas juga karena adanya konveksi dari udara dekat permukaan air laut yg permukaannya luas sekali [dataran rendah kan deket laut] dengan udara di dataran rendah.. jadi pertukaran suhu udara di dataran rendah dengan suhu udara dekat permukaan air laut yg menyebabkan suhu udara di dataran rendah panas..
anggap aja air laut itu cermin raksasa, suhu udara dekat cermin itu pasti panas sekali kan? krn air laut memantulkan sinar matahari..
nah udara itu kan dekat dgn udara di dataran rendah, terjadi pertukaran suhu antar keduanya..

Energi panas matahari yang diterima bumi setelah sampai pada permukaan bumi sebagian diserap, sebagian disimpan dan sebagian lagi akan dipantulkan kembali ke angkasa bebas. Hal ini menyebabkan permukaan bumi menjadi panas karena dekat dengan pemantulan energi panas matahari yang dipantulkan bumi. Sedangkan semakin tinggi dari permukaan bumi semakin dingin karena semakin jauh dari pantulan panas dari permukaan bumi. Rata-rata setiap naik 100 m keatas suhu berkurang antara 0,5 - 0,7 C. Energi panas matahari yang disimpan bumi akan dipantulkan kembali pada waktu malam hari sehingga suhu bumi diwaktu malam tidak terlalu dingin. Fenomena pemanasan global terjadi karena rusaknya lapisan ozon di atsmosfir, hal ini menyebabkan pantulan panas bumi tidak diteruskan keruang angkasa bebas tapi lapisan ozon yang tercemar CO, CO2 tersebut malah memantulkan kembali kalor yang dipancarkan bumi sehingga menyebabkan kenaikan suhu secara menyeluruh di semua permukaan bumi yang kita menyebutnya efek pemanasan global/global warming.
  • 4 tahun lalu
Perlu diketahui semakin tinggi lokasi di muka bumi, maka udara-nya semakin tipis, artinya jarak antar molekul gas menjadi lebih renggang. Ingat pesawat terbang yang besar-besar (misalnya Airbus) kalau terbang jarak jauh mesti pada ketinggian yang sangat tinggi, sampai 10000 m di atas permukaan tanah. Maksudnya adalah untuk mengurangi gesekan dengan udara karena pada ketinggian yang tinggi udaranya tipis, dan menyebabkan hemat energi.

Karena pada tempat yang tinggi udaranya tipis, hal ini menyebabkan panas dari permukaan tanah lebih sulit untuk merambat lewat udara, dan menghasilkan temperatur udara menjadi lebih dingin dibandingkan di dataran rendah.

Karena kalau dipegunungan biarpun lebih dekat dgn matahari tapi sinar matahari kan tidak langsung menyinari bumi tapi sudah difilter oleh ozon jadi tidak terlalu panas dan juga di pegunungan itu banyak terdapat pepohonan yang bisa menetralisir panas dan menyerap air sehingga suhu di pegunungan akan selalu lebih dingin dibandingkan didaerah dataran rendah, suhu didataran rendah lebih panas karena dataran rendah lebih dekat dengan lapisan bumi yang panas yang didalamnya terdapat lahar dan juga didataran rendah bukan pohonan yang di perbanyak ditanam tapi lebih banyak ditanam beton-beton yang dipasangi kaca, besi, almunium dll yang tidak bisa menyerap atau menetralisir panas tapi justru sebagai penghantar panas.
Jadi sudah jelas bahwa suhu udara dataran tinggi lebih dingin daripada suhu udara didataran rendah.


Penanganan Banjir

PENDAHULUAN
Air sangat penting sehingga membuat kehidupan tidak akan berjalan tanpa adanya air. Air yang ada di bumi terbentuk karena adanya siklus hidrologi. Siklus inilah yang perlu dijaga agar tetap berjalan normal. Bila siklus tersebut berjalan normal, maka dapat mempertahankan kuantitas dan kualitas air bumi. Kegiatan-kegiatan manusia yang tidak sewajarnya dan penyalahgunaan air seperti dalam bidang industri, rumah tangga, pertanian, kehutanan dan berbagai aspek lainnya menjadikan siklus hidrologi tidak lagi seimbang. Masalah penebangan hutan dan global warming juga merupakan penyebab terganggunya siklus hidrologi yang ditandai dengan kekeringan panjang pada musim kemarau dan banjir pada musim penghujan.
Kekeringan atau banjir adalah dua bencana akibat air yang sangat kurang atau terlalu berlimpah. Ini adalah isyarat penting betapa air tidak sekedar diciptakan begitu saja. Namun, air juga harus ada tersedia dalam jumlah yang seimbang agar kehidupan di bumi dapat berlangsung dengan baik. Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya. Banjir  dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami.
Upaya pengelolaan air yang paling mudah, cepat dan praktis adalah dengan memulai dari diri sendiri untuk mengefisienkan penggunaan air dan adanya kerjasama berbagai aspek kehidupan untuk bersama-sama mengatasi masalah rendahnya kuantitas dan kualitas air saat ini. Saat kita berbicara tentang pengelolaan air kita juga harus memperhatikan lingkungan yang tidak dapat terlepaskan dari pengelolaan air. Pengelolaan air secara terpadu adalah pengelolaan air yang memadukan antara air , tanah , dan tanaman menjadi suatu integritas yang saling menguntungkan dan membangun. Dengan terjaganya ketiga aspek ini maka secara umum lingkungan ikut terjaga keseimbangannya dan meningkatkan keefektifitasan tenanga manusia dalam pengolahannya.
 PENYEBAB BANJIR DAN UPAYA PENCEGAHANNYA
Berdasarkan    pengamatan,    bahwa  banjir disebabkan  oleh  dua  katagori  yaitu  banjir  akibat alami  dan  banjir  akibat  aktivitas  manusia.  Banjir akibat alami dipengaruhi oleh curah hujan, fisiografi, erosi  dan  sedimentasi,  kapasitas  sungai,  kapasitas drainase dan pengaruh air pasang. Sedangkan banjir akibat   aktivitas   manusia  disebabkan  karena  ulah manusi yang  menyebabkan  perubahan-perubahan lingkungan   seperti ,perubahan   kondis Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan pemukiman di sekitar bantaran, rusaknya drainase lahan, kerusakan bangunan pengendali banjir, rusaknya hutan (vegetasi alami), dan perencanaan sistem pengendali banjir yang tidak tepat.
1. Penyebab Banjir Secara Alami
a.   Curah Hujan
Oleh    karena  beriklim tropis, Indonesia mempunyai  dua  musim  sepanjang  tahun,yakni  musim  penghujan  umumnya  terjadi antar bulan   Oktober–Mare dan   musim kemarau terjadi antara            bulan   April- September. Pada musim hujan, curah hujan yang  tinggi  berakibat  banjir  di  sungai  dan bil melebihi   tebing   sungai   mak akan timbul banjir atau genangan.
b.   Pengaruh Fisiografi
Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan kemiringan daerah aliran sungai (DAS), kemiringan sungai, geometrik hidrolik  (bentuk  penampang  seperti  lebar, kedalaman,  potongan  memanjang,  material dasar  sungai),  lokasi  sungai  dan  lain-lain merupakan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya banjir.
c.   Erosi dan Sedimentasi
Erosi di DAS berpengaruh  terhadap pengurangan kapasitas  penampang  sungai. Erosi menjadi problem klasik sungai-sungai di Indonesia. Besarnya sedimentasi akan mengurangi kapasitas saluran sehingga timbul  genangan dan banjir di sungai. Sedimentasi juga merupakan masalah besar pada sungai-sungai di Indonesia. Menurut Zakianis  (2006),  erosi  tanah  longsor  (land- slide) dan erosi pinggir sungai (stream bank erosion) memberikan sumbangan sangat besar terhadap sedimentasi di sungai-sungai, bendungan dan akhirnya ke laut.
d.   Kapasitas Sungai
Pengurangan  kapasitas  aliran  banjir  pada sungai dapat disebabkan oleh pengendapan berasal  dari  erosi  DAS  dan  erosi  tanggul sungai yang berlebihan. Sedimentasi sungai terjadi karena tidak adanya vegetasi penutup dan  adanya  penggunaan  lahan  yang  tidak tepat, sedimentasi ini menyebabkan terjadinya agradasi dan pendangkalan pada sungai, hal ini  dapat menyebabkan berkurangnya  kapasitas  tampungan  sungai, Efek l angsung dari fenomena  ini  menyebabkan  meluapnya  air dari  alur  sungai  keluar  dan  menyebabkan banjir.
e.   Kapasitas Drainasi yang tidak memadai
Sebagian besar kota-kota di Indonesia mempunyai  drainasi  daerah  genangan  yang tidak  memadai, sehingga kota-kota tersebut sering  menjadi  langganan  banjir  di  musim hujan.Terlebih lagi banyak masyarakat yang menutup lubang pori drynase dengan pengaspalan atau pengecoran sehingga air menjadi banyak terdapat di permukaan.
f.    Pengaruh air pasang
Air pasang laut memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu banjir bersamaan dengan air pasang yang tinggi maka tinggi genangan atau   banjir  menjadi  besar  karena  terjadi aliran    balik    (backwater).            Fenomena genangan   ai pasang   (Rob)   jug rentan terjadi di daerah pesisir sepanjang tahun baik di  musim  hujan  dan  maupun  di  musim kemarau.
g.   Perubahan iklim
Perubahan iklim yang tidak menentu membuat kondisi musim kemarau dan musim hujan menjadi terlalu lama sehingga menyebabkan kekeringan panjang saat kemarau dan banjir besar saat musim hujan.
2. Penyebab Banjir Akibat Aktifitas Manusia
a.   Perubahan kondisi DAS
Perubahan kondisi  DAS seperti penggundulan  hutan,  usaha  pertanian  yang kurang tepat, perluasan kota, dan perubahan tataguna lainnya dapat           memperburuk masalah banjir karena meningkatnya aliran banjir. Dari persamaan-persamaan yang ada, perubahan   tata   guna   lahan   berkontribusi besar terhadap naiknya kuantitas dan kualitas banjir.
b.   Kawasan kumuh dan Sampah
Perumahan   kumuh   (slum) di   sepanjang bantaran sungai dapat menjadi penghambat aliran . Masalah kawasan kumuh ini menjadi faktor  penting  terjadinya  banjir  di   daerah
perkotaan.Disiplin masyarakat untuk  membuang sampah pada tempat yang ditentukan masihkurang baik dan banyak melanggar dengan membuang sampah langsung ke alur sungai, hal  ini  biasa  dijumpai  di  kota-kota  besar. Sehingga dapat meninggikan muka air banjir disebabkan karena aliran air terhalang.
c.   Drainasi lahan
Drainasi perkotaandan pengembangan pertanian pada daerah bantaran banjir akan mengurangi kemampuan bantaran dalam menampung debit air yang tinggi.
d.   Kerusakan bangunan pengendali air
Pemeliharaan yang   kurang  memadai   dari    bangunan  pengendali banjir sehingga menimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir.
e.   Perencanaan sistim pengendalian banjir tidak tepat
Beberapa         sistim   pengendalian   banjir memang dapat mengurangi kerusakan akibat banjir kecil sampai sedang, tetapi mungkin dapat menambah  kerusakan  selama  banjir banjir   yang    besar.   Semisal,bangunan tanggul sungai yang tinggi. Limpasan  pada tanggul ketika terjadi banjir yang melebihi banjir rencana dapat menyebabkan keruntuhan tanggul. Hal ini mengakibatkan kecepatan aliran yang sangat besar melalui tanggul  yang  bobol  sehingga  menibulkan banjir yang besar.
f.    Rusaknya hutan (hilangnya vegetasi alami)
Penebangan     pohon  dan tanaman oleh masyarakat secara liar (Illegal logging), tani berpindah-pindah  dan  permainan  rebiosasi hutan untuk bisnis dan sebagainya menjadi salah  satu  sumber  penyebab  terganggunya siklus hidrologi dan terjadinya banjir.
g.   Menurunya Ground Water Table
Pengambilan air tanah secara berlebihan tanpa diimbangi dengan pengisian kembali menjadikan muka air tanah menurun, sehingga permukaan air tanah menjadi ikut menurun yang memungkinkan terjadinya banjir. Penurunan muka airtanah ini merupakan indikasi bahwa eksploitasi airtanah di suatu kawasan tersebut telah berlebihan.
Dampak yang ditimbulkan banjir sangatlah merugikan, oleh karena itu perlu dilakukan upaya pencegahan yang efektif. Pengelolaan air secara terpadu dinilai paling baik untuk mencegah masalah banjir yang ada di Indonesia. Selain mampu mencegah banjir pengelolaan air secara terpadu juga baik untuk lingkungan sehingga dapat berkesinambungan dalam jangka panjang yang akan menghemat biaya dan efektifitas tenaga. Beberapa upaya yang dilakukan dalam pengelolaan air secara terpadu :
a.        Pembuatan biopori untuk memperbesar drynase dan menabung air
Pembuatan lubang – lubang kecil pada tanah yang didalamnya terdapat seresah, lubang – lubang ini dimaksudkan untuk memperbesar kemungkinan masuknya air tanah ke dalam tanah sehingga keberadaan air di dalam tanah bertahan lebih lama dibandingkan jika air terbawa ke saluran pembuangan karena run off.
b.        Pembuatan embung di daerah tegalan atau sawah
Pada daerah pertanian perlu dibuat tempat penyimpanan air,dapat berbentuk bangunan persegi,atau sejenis sumur atau dapat juga berbentuk seperti danau danau buatan. Selain untuk menampung air embung juga dapat berfungsi untuk memperlambat aliran air sehingga air yang ada lebih mudah di kendalikan untuk berbagai hal yang menguntungkan.
c.         Membuat atau memperbaiki bangunan bangunan penangkap air hujan
Pembangunan serta pemeliharaan bangunan penangkap air hujan di nilai mampu memberikan kontribusi terhadap pencegahan banjir di berbagai daerah. Selain untuk mencegah banjir, air yang di tamping pun dapat digunakan untuk beberapa keperluan sehingga keberadaannya tentu sangat menguntungkan. Pola pembuatan bangunan penampung air hujan ini hendaknya di seuaikan dengan tata letak lahan yang ada sehingga keberadaannya tidak mengganggu dan fungsinya optimal.
d.        Memperbaiki aliran irigasi yang ada
Pada zaman pemerintahan Suharto banyak dibangun saluran saluran irigasi yang fungsinya selain untuk mencegah banjir juga untuk mengalirkan air untuk kebutuhan pertanian. Tetapi beberapa tahun belakangan banyak saluran irigasi yang tidak terawat bahkan ada yang alih fungsi menjadi kolam atau tempat pembuangan sampah. Saat fungsi irigasi tidak lagi berjalan pada semestinya ini akan mengundang masalah baru yaitu tercemarnya air serta tersumbatnya aliran air yang jika kuantitas air hujan yang turun banyak maka kemungkinan terjadinya banjir besar. Untuk menghindari terjadinya hal tersebut maka pengelolaan air secara terpadu diterapkan. Pada hal ini yang paling utama adalah perilaku manusia atau masyarakat sebagai pengendali serta pemelihara lingkungan agar tidak mengotori saluran irigasi dengan sampah dan menjaga bangunan irigasi yang sudah ada dengan upaya perbaikan dan perawatan sehingga bangunan irigasi berfungsi optimal.
e.          Memindahkan sedimentasi pada aliran sungai
Aliran air hujan yang menuju sungai biasannya membawa sedimentasi berupa butiran butiran tanah atau sering di sebut sedimentasi yang jika dibiarkan akan mengurangi kapasitas penampungan air sungai. Hal ini tentu sangat merugikan karena mengancam jika sungai tidak mampu menampung aliran air dari berbagai daerah maka akan terjadi banjir yang merugikan. Air yang ada di sungai akan luber atau meluap ke daerah di dekat sungai. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan penanaman tanaman di pinggir sungai untuk menahan agar tidak terjadi erosi dari daerah pinggir sungai. Jika sedimentasi sudah cukup banyak di daerah sungai, dilakukan pengerukan pada musim kemarau.
f.         Melakukan upaya mitigasi atau penghijauan
Integrasi keterpaduan antara manusia, tanaman , tanah dan air penting untuk di perhatikan sehingga di dapat hasil yang optimum dan baik untuk semua aspek dalam pengelolaan air. Upaya pencegahan banjir dengan memadukan tanah dengan air sangat ideal dilakukan. Penanaman tanaman di daerah  yang rentan erosi dan daerah sumber  mata air dimaksudkan untuk menjaga hubungan yang baik antara keberadaan air di dalam tanah dengan tanaman yang nantinya air tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman dan manusia. Tanaman membantu proses penyerapan air ke dalam tanah serta memperkuat agregat tanah agar tidak terjadi erosi. Tanaman yang ditanam hendaknya yang memiliki kriteria cocok pada lahan yang akan di Tanami agar tanaman dapat hidup subur dan mandiri saat sudah dewasa sehingga tidak perlu dirawat secara terus menerus. Beberapa tanaman yang biasanya ditanam seperti jarak , kelapa , sengon, dan lainnya.
g.        Menggalakan upaya disiplin pembuangan sampah dan tanggap banjir
Peran serta masyarakat diperlukan dalam minimasi bencana banjir.Prilaku masyarakat yang senantiasa menjaga kebersihan aliran sungai dan keseimbangan lingkungan mampu mencegah banjir dengan baik. Oleh karena itu diperlukan beberapa  pendekatan,  antara  lain:  
1).  Peringatan bahaya banjir disebarkan di tingkat desa/kalurahan,.
2). Kerja bakti untuk memperbaiki dasar dan tebing sungai,  membersihkan  kotoran  yang  menyumbat saluran  air,  membangun  tanggul  dengan  karung- karung  pasir  atau  bebatuan,  menanami  bantaran sungai            (penghijauan).
3).   Rencana pemulihan pertanian pasca-banjir, antar lain dengan menyimpan benih  dan  persediaan  lain  di  tempat  yang  paling aman   dan  ini  dijadikan  tradisi,
4).  Perencanaan pasokan air bersih dan pangan seandainya bencana memaksa pengungsian.

Program-program untuk menggugah kesadaran masyarakat  tentang  bahaya  banjir,  meliputi  :  
1).   Penjelasan tentang fungsi-fungsi bantaran sungai dan jalur banjir, lokasinya serta pola-pola siklus hidrologi,
2).   Identifikasi bahaya rawan banjir,
3). Mendorong  perorangan  untuk  memperbaiki  daya tahan   bangunan  dan  harta      mereka  agar  potensi kerusakan/kehancuran dapat ditekan,
4). Menggugah kesadaraan masyarakat tentang arti penting rencanarencana dan latihan–latihan penanggulangan serta pengungsian,
5).   Mendorong   tanggung         jawab perorangan  atas  pencegahan  dan  penanggulangan
   banjir dalam kehidupan sehari–hari,
6).  Pada praktik bertani  harus  memperhatikan  dampak  lingkungan,jangan menggunduli hutan dan hulu sungai saluran air harus dipelihara dan sebagainya.
h.        Penataan tata kota dan daerah pertanian serta irigasi
Tujuan  pengaturan  tata  guna  lahan  melalui undang-undang agrarian dan peraturan-peraturan lainny adalah   untuk   menekan risik terhadap nyawa, harta benda dan pembangunan di kawasan- kawasan rawan bencana (Irianto, 2006). Dalam kasus banjir, suatu daerah dianggap rawan bila daerah itu biasanya dan diperkirakan akan terlanda luapan air dengan dampak-dampak negatifnya; penilaian ini didasarkan sejarah   banjir dan  kondisi daerah. Bantaran sungai dan pantai seharusnya tidak boleh dijadikan lokasi pembangunan fisik dan pemukiman. Selain   itu,   Badan   Pertahanan   Nasiona beserta departemen-departemen terkait harus memperhatikan pula  kawasan  perkotaan.  Dengan  pengaturan  tata guna   tanah  yang  dilandasi  data-data  ilmiah  dan dengan mengacu kepada potensi bencana, setidaknya bencana  alam  seperti  banjir  tidak  akan  diperparah oleh pengizinan pemakaian tanah yang            tak mengindahkan sisi kelayakan.

PENUTUP

Pengelolaan air secara terpadu bertujuan untuk memaksimalkan antara hubungan manusia, tanaman ,tanah dan air agar semua aspek ini bisa saling menjaga dan menguntungkan sehingga didapat hasil yang berkesinambungan di berbagai sisi. Ke empat aspek tadi tidak dapat dipisahkan sehingga alangkah baiknya jika ke empat aspek tersebut di padukan menjadi satu dalam pengelolaan air. Diperlukan sikap kebersamaan       multi-stakeholder dan keterlibatan masyarakat yang mendukung sepenuhnya karena peran manusia lah yang dominan dalam hal ini.
Terdapat dua katagori penyebab banjir, yaitu akibat  alami  dan  akibat  aktivitas  manusia.  Dalam kaitannya terjadinya banjir, maka terdapat metode pengendalian  banjir,  yaitu  metode  struktural  dan non-struktural. Metode struktural ada dua jenis yaitu Perbaikan   dan   pengaturan   sistem   sunga yang meliputi sistem jaringan sungai, normalisasi sungai, perlindungan tanggul, tanggul banjir, sudetan (short cut)  dan  floodway;  dan  Pembangunan  pengendali banji yang   meliput bendungan   (dam),   kolam retensi, pembuatan check dam (penangkap sedimen), bangunan  pengurang kemiringan sungai, groundsill, retarding basin dan pembuatan polder.
Sedangkan      metode  non  struktural  adalah pengelolaan DAS, yaitu pengaturan tata guna lahan, pengendalian erosi, peramalan banjir, partisipasi masyarakat, law enforcement, dsb. Pengelolan DAS berhubungan erat dengan peraturan, pelaksanaan dan pelatihan. Kegiatan penggunaan lahan dimaksudkan untuk menghemat dan menyimpan air dan konservasi tanah. Dengan peningkatan pengertian, kepedulian dan partisipasi masyarakat, diharapkan bencana banjir dapat dicegah sehingga tidak menimbulkan korban dan kerugian yang berarti.
                                                                                                             

DAFTAR PUSTAKA


Anonim, 2012. http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir. Diakses pada tanggal 10 Mei 2012 pukul 07.00
Arsyad, 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB. Bandung.

Bastian,Ligal , 2008. PENDEKATAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BANJIR Jurnal Mahkamah Konstitusi Volume 8, Nomor 2, Juli 2008 :  162 – 169
Hoekstra, A.Y. 2006. The Global Dimension of Water Governance: Nine Reasons for Global Arrangements in Order to Cope with Local Problems.Value of Water Research Report Series No. 20 UNESCO-IHE Institute for Water Education
Irianto, 2006. Pengelolaan Sumber Daya Lahan dan Air, Agro Inovasi, Jakarta.
Kodoatie,  Robert  J.  dan  Sugiyanto,  2002.  Banjir, Beberapa     penyebab         dan      metode pengendaliannya          dalam              perspektif Lingkungan, Pustaka Pelajar,Yogyakarta.
Zakianis, 2006. Sumber-sumber Air Bersih. Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.